Bagian ini berisi teks baghawadgita dan tafsirnya, dari naskah dan tafsir di dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Main Virgiawan Di Brumbun Lamongan "seorang pengembara"

Sabtu, 19 November 2011

BAB:I-"GUNDAHNYA SANG ARJUNA"..Bagian ke-5.

Bermulalah di sini Gita suci yang
dituturkan dari Yang Maha Suci
Kreshna. Berkatalah
Dhristarashtra : 1. Di dataran nan suci ini
(dharmakshetra), tanah
kebenaran, tanahnya para
Kuru, berkumpullah putra-
putraku beserta laskar-
laskar mereka, dan juga putra-putra Sang Pandu
(Ayahanda Pandawa)
bersiap-siap untuk suatu
yudha. Apa saja yang
sedang mereka lakukan
beritakanlah kepadaku, wahai Sanjaya. (Keterangan) Kurukshetra
disebut juga dharmakshetra,
terletak di Hastinapura di utara
kota New Delhi yang modern
dewasa ini. Tempat ini di masa
yang silam dianggap suci karena sering dipergunakan oleh para
resi, kshatrya untuk bertapa,
bahkan kabarnya juga oleh para
dewa-dewa. Salah satu kata
pertama yang disebut di sloka pembukaan Bhagavat
Gita di atas ini adalah
kata dharma, inilah
inti sebenarnya yang harus diresapkan oleh sidang
pembaca. karena inilah salah satu
pesan sesungguhnya Bhagavat
Gita. "Bangunlah jiwa dan ragamu
dengan dan untuk dharma." Kata
dharma berasal dari kata "Dhru" yang berarti "pegang." Dharma
adalah kekuatan yang memegang
hidup ini, dharma tidak terdapat
dalam ucapan-ucapan manis.
tetapi adalah kesaktian di dalam
jiwa kita yang merupakan inti dari kehidupan kita. Bermulalah di sini Gita suci yang
dituturkan dari Yang Maha Suci
Kreshna. Berkatalah
Dhristarashtra : 1. Di dataran nan suci ini
(dharmakshetra), tanah
kebenaran, tanahnya para
Kuru, berkumpullah putra-
putraku beserta laskar-
laskar mereka, dan juga putra-putra Sang Pandu
(Ayahanda Pandawa)
bersiap-siap untuk suatu
yudha. Apa saja yang
sedang mereka lakukan
beritakanlah kepadaku, wahai Sanjaya. (Keterangan) Kurukshetra
disebut juga dharmakshetra,
terletak di Hastinapura di utara
kota New Delhi yang modern
dewasa ini. Tempat ini di masa
yang silam dianggap suci karena sering dipergunakan oleh para
resi, kshatrya untuk bertapa,
bahkan kabarnya juga oleh para
dewa-dewa. Salah satu kata
pertama yang disebut di sloka
pembukaan Bhagavat Gita di atas ini adalah kata dharma,
inilah inti sebenarnya yang harus
diresapkan oleh sidang pembaca.
karena inilah salah satu pesan
sesungguhnya Bhagavat Gita.
"Bangunlah jiwa dan ragamu dengan dan untuk dharma." Kata
dharma berasal dari kata "Dhru"
yang berarti "pegang." Dharma
adalah kekuatan yang memegang
hidup ini, dharma tidak terdapat
dalam ucapan-ucapan manis. tetapi adalah kesaktian di dalam
jiwa kita yang merupakan inti
dari kehidupan kita. Dan Kshetra berarti padang,
ladang atau medan.
Seyogyanyalah kita bertanya
pada pribadi kita masing-masing,
"apa sajakah yang selama ini
yang telah kutanam dan kupetik dalam hidupku ini, dharma
ataukah adarma? Bagi yang
menanam dharma maka hidupnya
akan menghasilkan karunia Ilahi,
dan yang telah melakukan
adharma maka kita dapat bercermin kepada para Kaurawa.
"Bersiap-siap untuk suatu
yudha," Kaurawa menginginkan
perang, sedangkan para
Pandawa sebenarnya
menginginkan perdamaian. Sang Kreshna yang Maha Bijaksana
berusaha agar perdamaian
terwujud, tetapi para Kaurawa
selalu menolaknya. maka untuk
mempertahankan diri dan
menegakkan dharma/kebenaran terpaksalah para Pandawa
berperang walaupun dengan
laskar yang sedikit. Tetapi yang
sedikit ini akhirnya akan menang
karena mereka berjalan tegak di
jalan kebenaran. Dalam ucapan Dhritarashtra yang
mengatakan di atas "tanahnya
para Kuru" dan juga '"putra-
putraku," tersirat adanya rasa
egois atau ahankara (angkara)
yang besar. inilah sebenarnya sumber dari segala tragedi dalam
hidup ini. Berkatalah Sanjaya : 2. Kemudian pangeran
Duryodana, setelah melihat
barisan laskar para
Pandawa yang teratur rapi,
menghampiri gurunya dan
berkata. Yang dimaksud guru di sini adalah
Dronacharya, guru sang Kaurawa
dan Pandawa. Di Baratayudha ini
Drona mendukung Kaurawa
sampai akhir hayatnya. 3. Lihatlah wahai guruku,
barisan laskar para
Pandawa yang telah siap
untuk berperang, mereka
semua dipimpin oleh murid
Sang Guru yang bijaksana, yaitu putra Sang Drupada. Yang dimaksud "murid yang
bijaksana" di sini adalah
Dhristadyumna. la adalah putra
Raja Drupada dari kerajaan
Panchala. Dia diangkat para
Pandawa menjadi panglima perang untuk pihak Pandawa;
Dhristadyumna sebenarnya masih
merupakan saudara ipar para
Pandawa Dalam perang ini Resi
Dorna akan membunuh Raja
Drupada, kemudian Dhristadyumna akan membunuh
Drona. Disusul putra Drona yang
disebut Asvatama kemudian
membunuh Dhristadyumna. Inilah
lingkaran karma. 4. Di sinilah para pahlawan-
pahlawan besar berkumpul,
dari Bima, Arjuna dan yang
tak kalah kehebatannya
yaitu Yuyudana, Virata dan
Drupada. 5. Juga Dhrishtaketu,
Chekitana dan raja besar
dari Kashi, Purujit,
Kuntiboja dan Shaibya,
semuanya pendekar-
pendekar nan sakti wirawan. 6. Juga yang gagah berani
yaitu, Yudhamanyu dan
Uttamauja, Saubadra dan
putra-putra Draupadi. Bima : Putra kedua dari Pandu. yang kedua dari para Pandawa. Arjuna : Yang ketiga dari Pandawa bersaudara, dan yang
paling dikasihi Sang Kreshna. Yuyudana : Disebut Juga Setyaki. pahlawan yang gagah
perkasa. Virata: Raja dari Matsya-desha. seorang raja nan arif bijaksana.
Selama pengasingan para
Pandawa di hutan (13 tahun
lamanya), tahun terakhir
pengasingan ini para Pandawa
menyamar dan bersembunyi di istana Raja Virata. Alkisah putri
sang raja kemudian dikawinkan
dengan Abimanyu, putra Arjuna. Dhristaketu: Putra Sishupala, raja dari Chedi-desha. Chekitana: Salah satu pendekar yang gagah berani yang
memimpin salah satu dari tujuh
divisi laskar Pandawa. Purujit dan Kuntibhoja: Saudara-saudara laki dari ibu
Kunti, ibunya sang Pandawa, Shaibya: Raja suku Sibi. Duryodana menyebutnya sebagai
banteng diantara manusia,
karena ia adalah seorang
pendekar sakti yang bertenaga
luar biasa. Yudhamanyu dan Uttamauja: Pangeran-pangeran dari
Panchala, juga merupakan
pendekar-pendekar nan sakti-
wirawan. Keduanya dibunuh
Ashvathama sewaktu sedang
tidur. Saubhadra: Putra Arjuna dan Subadra (adik sang Kreshna). la
dikenal juga dengan nama
Abimanyu. Dalam perang ini ia
memperlihatkan
kepahlawanannya yang luar
biasa. Putra-putra Draupadi: Mereka berjumlah lima orang,
yaitu Prativindhya, Srutasoma,
Srutakirtti, Satanika dan
Srutukarman. Pendekar-pendekar di atas
semuanya kalau bekerja untuk
perdamaian niscaya akan
menghasilkan suatu suasana
damai bagi semuanya, tetapi
rupanya takdir menentukan yang lain, dan itulah misteri Ilahi
yang tak akan mungkin
terjangkau oleh kita manusia ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar